Aids

on Sabtu, 05 Maret 2016
Pengertian Penyakit AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau sindrom runtuhnya kekebalan tubuh, jadi pengertian AIDS adalah kumpulan gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena terinfeksi virus HIV. apa itu HIV ? HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Orang yang terinfeksi oleh virus ini tidak dapat mengatasi serangan infeksi penyakit lain karena sistem kekebalan tubuhnya terus menurun secara drastis. Bahkan kuman yang bagi orang biasa tidak menimbulkan penyakit, pada penderita HIV dapat mengakitbatkan kematian. HIV termasuk PMS karena salah satu cara penularannya adalah melalui hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi virus HIV.
  
    Cara Penularan/Penyebab Penyakit AIDS
Pada penderita AIDS, virus HIV terdapat pada seluruh cairan tubuhnya, tetapi yang bisa menularkan hanya yang terdapat pada sperma (air mani), darah, dan cairan vagina. Cara penularannya/penyebab adalah sebagai berikut...
v  Berganti-ganti pasangan seksual, atau berhubungan seksual dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV
v  Pemakaian jarum suntik bekas orang yang terinfeksi virus HIV
v  Menerima transfusi darah yang tercemar HIV. 
v  Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV akan menularkannya kepada bayi dalam kandungannya.
v  Penularan HIV juga terjadi pada Susu Ibu atau ASI

3.      Ciri-Ciri/Gejala Penderita AIDS
Ø  Demam : demam merupakan gejala awal terkena virus HIV, suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Pada gejala ini merupakan tahap virus masuk kedalam aliran darah dan bereplikasi dalam jumlah besar. sehingga terjadinya reaksi inflasi yang ada didalam tubuh. 
Ø  Kelelahan : kelelahan yang berlebihan adalah tanda efek dari sistem kekebalan tubuh yang aktif
Ø  Otot Pegal, Nyeri Sendi, dan Pembengkakan Kelenjar Getah Bening : Pada tanda ini merupakan tanda yang biasa terjadi jika seorang terjangkit virus. sedangkan pembengkakan kelenjar getah bening adalah tanda bahwa sitem kekebalan tubuh sedang aktif
Ø  Nyeri Tenggorokan dan Sakit Kepala : nyeri tenggorokan dan sakit kepala merupakan tanda bahwa antibodi tidak melawan virus HIV AIDS 
Ø  Ruam-Ruam Kulit : Ruam-ruam pada kulit yang seperti bisul-bisul kecil dan berwarna merah muda yang terasa gatal. Gejala ini memakan waktu yang panjang dan tak kunjung sembuh. bila ini terjadi segera hubungi dokter. 
Ø  Diare, Mual dan Muntah Kepanjangan : Pada gejala ini merupakan tanda bahwa bakteri dan kuman dapat masuk ke tubuh kita dengan mudah karna sistem imun kita sudah menurun. 
Ø  Turunnya Berat Badan : Jika berat badan anda menurun hingga 10% dan terjadi diare dan demam yang panjang biasanya dalam waktu 30 hari. 
Ø  Batuk Kering : batuk kering bila ini terjadi dalam waktu yang lama kira-kira satu minggu dan tak kunjung sembuh atau berkurang setelah meminum obat.
Ø  Pnuemonia dan Toksoplasmosis : Pnuemonia merupakan penyakit infeksi paru-paru, ini disebabkan oleh jamur dan biasanya terdapat pada seseorang yang sistem imunnya menurun, sedangkan Toksoplasmosis adalah sejenis parasit yang menyerang otak, ini diakibatkan oleh sistem imun yang menurun
Ø  Berkeringat Pada Malam Hari :  berkeringat pada malam hari merupakan tanda dari 50% orang yang pernah menderita penyakit AIDS, ini bukan karna suhu atau aktifitas berlebihan.
Ø  Perubahan Pada Kuku : kuku melengkung dan menebal serta terjadi perubahan warna seperti kehitaman dan kebiru-biruan. Penyebab dari tanda ini adalah terinfeksi jamur.
Ø  Bingung dan Sulit Berkonsentrasi : Pada tahap ini merupakan tahap akhir yang disebabkan karna fungsi motorik tidak mampu berkordinasi dengan baik sehingga penderita tak mampu mengerakkan tangannya dan pada tahap ini tandanya adalah mudah lupa, marah, dan tersinggung.
Ø  Herpes di Mulut dan Alat Kelamin : Gejala ini merupakan infeksi pada stadium akhir
Ø  Menstruasi Tidak Teratur : Lama datang bulan, ini terjadi karna jumlah darah yang semakin berkurang.
Ø  Infeksi Jaringan Kulit Rambut 

4.      Cara Pencegahan Penyakit AIDS 
§  Hindari mabuk-mabukan dan narkotika yang dapat membuat kita menjadi lupa diri
§  Selalu mengganti jarum suntik jika mengkonsumsi obat-obatan 
§  Melakukan hubungan seksual yang aman dan jangan gonta-ganti pasangan 
§  Memakai kondom saat berhubungan seksual 
§  Jika ingin melakukan hubungan seks, ketahuilah kondisi kesehatannya
§  Membutuhkan transfusi darah, Lihat dan mintalah kepastian darah  tersebut bebas dari HIV
§  Periksa tes imun untuk mengetahui tingkat sistem imun. 
§  Lakukan pengecekan pada sperma , pasangan yang ingin mempunyai anak


Alzheimer

on Jumat, 04 Maret 2016
Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa. Pada penderita Alzheimer, gejala berkembang secara perlahan-lahan seiring waktu. Misalnya yang diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama obyek dan tempat, bisa berkembang menjadi disorientasi dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku dalam hal ini seperti menjadi agresif, penuntut, dan mudah curiga terhadap orang lain. Bahkan jika penyakit Alzheimer sudah mencapai tingkat parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah dalam berbicara dan berbahasa, serta tidak mampu melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain.
Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, para ahli percaya bahwa penyakit Alzheimer pada umumnya terjadi akibat meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-amyloid di dalam otak yang menyebabkan kematian sel saraf.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup.
Penyakit Alzheimer rentan diidap oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun dan sebanyak 16 persen diidap oleh mereka yang usianya di atas 80 tahun.
Meski begitu, penyakit yang menjangkiti lebih banyak wanita ketimbang laki-laki ini juga dapat dialami oleh orang-orang yang berusia antara 40 hingga 65 tahun. Diperkirakan sebanyak 5 persen penderita Alzheimer terjadi pada kisaran usia tersebut.

ü  Diagnosis dan pengobatan penyakit Alzheimer

Penderita Alzheimer umumnya hidup sekitar delapan hingga sepuluh tahun setelah gejala muncul, namun ada juga beberapa penderita lainnya yang bisa hidup lebih lama dari itu. Meski penyakit Alzheimer belum ada obatnya, ragam pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk memperlambat perkembangan kondisi serta meredakan gejalanya.
Karena itu segera temui dokter jika daya ingat Anda mengalami perubahan atau Anda khawatir mengidap demensia. Jika penyakit Alzheimer dapat terdiagnosis sejak dini, maka Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan serta perencanaan untuk masa depan, dan yang lebih terpenting lagi, Anda akan mendapatkan penanganan lebih cepat yang dapat membantu.
Tidak ada tes khusus untuk membuktikan seseorang mengalami Alzheimer. Dalam mendiagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan bertanya seputar masalah dan gejala yang dialami pasien. Tes medis mungkin akan dilakukan untuk memastikan kondisi yang dialami pasien bukan karena penyakit lain.
Selain dengan pemberian obat-obatan, penyakit Alzheimer juga dapat ditangani secara psikologis melalui stimulasi kognitif guna memperbaiki ingatan si penderita, memulihkan kemampuannya dalam berbicara maupun dalam memecahkan masalah, serta membantunya hidup semandiri mungkin.

ü  Pencegahan penyakit Alzheimer

Karena penyebab pastinya belum diketahui, sulit untuk mencegah penyakit ini secara pasti. Namun, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi otak, di antaranya dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta rutin memeriksakan diri ke dokter seiring pertambahan usia.

ü  Gejala Penyakit Alzheimer

Pada awalnya sebagian besar gejala penyakit Alzheimer sulit untuk dikenali. Kita mungkin mengira penurunan daya ingat adalah hal biasa yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Namun ketika gejala penyakit Alzheimer memasuki tahapan lebih lanjut, kondisi ini bisa berdampak signifikan bagi penderitanya.
Tingkat kecepatan berkembangnya gejala penyakit Alzheimer berbeda-beda pada tiap penderitanya, tapi umumnya gejala berkembang secara perlahan-lahan selama beberapa tahun, yaitu ketika sel-sel otak akan berangsur-angsur mati sehingga kinerja pengiriman sinyal di dalam otak makin terganggu. Gejala penyakit Alzheimer dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap menengah, dan tahap akhir.

ü  Tahap awal

Berikut ini adalah contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer di tahap awal yang bisa menjadi tanda peringatan bagi Anda.
  • Lupa nama benda atau tempat.
  • Lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi atau percakapan yang baru saja dibincangkan.
  • Suka tersesat, meski di lingkungan sendiri.
  • Salah menaruh barang, misalnya menaruh piring di dalam lemari baju.
  • Sering mengulang pertanyaan yang sama.
  • Kesulitan dalam membuat rincian daftar belanja atau pun membayar tagihan.
  • Mengalami perubahan suasana hati, misalnya dari senang menjadi sedih atau sebaliknya secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
  • Enggan beradaptasi dengan perubahan.
  • Enggan melakukan hal baru.
  • Tidak tertarik lagi terhadap aktivitas yang tadinya disukai.
  • Sering menghabiskan banyak waktu untuk tidur di siang hari.
  • Sulit membuat keputusan.
  • Mudah berburuk sangka.
  • Lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada bersosialisasi dengan keluarga atau pun teman-teman.

ü  Tahap menengah

Di tahap menengah ini, gejala penyakit Alzheimer yang sudah ada sebelumnya menjadi meningkat. Biasanya penderita yang sudah memasuki tahap ini perlu diberi perhatian ekstra dan mulai dibantu dalam aktivitas kesehariannya, Misalnya mandi, menggunakan toilet, berpakaian, dan makan. Berikut ini adalah contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer pada tahap menengah.
  • Sulit mengingat nama anggota keluarga sendiri atau teman.
  • Disorientasi dan rasa bingung yang meningkat, misalnya penderita tidak tahu di mana dirinya berada.
  • Mengalami masalah dalam berkomunikasi.
  • Perubahan suasana hati yang makin sering terjadi.
  • Gelisah, frustrasi, cemas, dan depresi.
  • Kadang-kadang mengalami gangguan penglihatan.
  • Mengalami gangguan pada pola tidur.
  • Perilaku impulsif, repetitif, atau obsesif.
  • Mulai mengalami halusinasi atau delusi.

ü  Tahap akhir

Di tahap ini, biasanya penderita penyakit Alzheimer sudah sangat sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari sendirian. Oleh karena itu, mereka membutuhkan pengawasan dan bantuan secara menyeluruh. Contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer pada tahap akhir adalah:
  • Penurunan daya ingat yang sudah makin parah.
  • Tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.
  • Tidak mampu tersenyum.
  • Halusinasi dan delusi yang memburuk, membuat penderitanya menjadi selalu curiga terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan berlaku kasar juga.
  • Tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.
  • Buang air kecil atau besar tanpa disadari.
  • Berat badan turun secara signifikan.
  • Tidak lagi memedulikan kebersihan dirinya sendiri.
  • Mengalami kesulitan menelan saat makan.
Jika gejala penyakit Alzheimer pada kerabat atau teman Anda meningkat secara signifikan atau jika Anda sendiri khawatir dengan penurunan daya ingat yang Anda rasakan, maka segeralah temui dokter.

ü  Penyebab Penyakit Alzheimer

Hingga saat ini penyebab pasti penyakit Alzheimer belum diketahui. Namun melalui penelitian laboratorium tampak jelas bahwa penyakit ini merusak dan mematikan sel-sel otak secara berangsur-angsur. Para ahli berpendapat bahwa matinya sel-sel otak tersebut terjadi akibat gumpalan protein beta-amyloid, serta kusutnya benang-benang protein di dalam sel otak yang menyebabkan peredaran nutrisi atau bahan-bahan lain yang dibutuhkan otak menjadi terganggu.
Ada beberapa faktor risiko yang menurut para ahli dapat memengaruhi otak sehingga memicu penyakit Alzheimer, di antaranya adalah:
  • Umur. Penyakit Alzheimer rentan diidap oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun, dan sebanyak 16 persen diidap oleh mereka yang usianya di atas 80 tahun. Meskipun begitu, sekitar 5 persen kasus Alzheimer terjadi di bawah usia 65.
  • Cedera di kepala. Orang-orang yang yang pernah mengalami cedera berat di kepala memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.
  • Genetika. Menurut penelitian, mereka yang memiliki orang tua atau saudara dengan Alzheimer akan lebih berisiko terkena penyakit yang sama. Selain itu kurang dari lima persen kasus penyakit Alzheimer terjadi akibat perubahan atau mutasi genetika.
  • Mengidap Down’s syndrome. Gangguan genetika yang menyebabkan terjadinya Down’s syndrome juga dapat menyebabkan penumpukan protein beta-amyloid di otak sehingga memicu terjadinya penyakit Alzheimer.
  • Mengidap gangguan kognitif ringan. Mereka dengan gangguan kognitif dan memori lebih berisiko untuk mengalami Alzheimer nantinya.
  • Kebiasaan hidup yang buruk dan kondisi yang berkaitan dengan penyakit jantung. Menurut penelitian faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, juga dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer, misalnya seperti kurang mengonsumsi makanan yang mengandung serat, kebiasaan merokok, kurang berolahraga, mengidap obesitas, menderita hipertensi dan kolesterol tinggi, dan diabetes.
Selain faktor-faktor risiko tersebut, jenis kelamin juga menentukan tingkat kerentanan seseorang untuk terkena penyakit Alzheimer. Menurut penelitian, wanita lebih berisiko terkena penyakit ini ketimbang laki-laki

ü  Pencegahan Penyakit Alzheimer

Hingga kini belum ada cara pasti dalam mencegah penyakit Alzheimer karena penyebabnya yang belum diketahui. Namun dengan makin banyaknya informasi yang didapat dari penelitian, bukan tidak mungkin suatu saat nanti cara mencegah atau pun mengobati Alzheimer dapat ditemukan.
Penyakit jantung sering dikaitkan dengan risiko mengidap penyakit  Alzheimer. Jika seseorang memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung, maka dirinya pun lebih rentan terkena penyakit Alzheimer. Karena itu lakukanlah beberapa langkah berikut ini agar jantung tetap sehat dan terhindar dari risiko terkena penyakit Alzheimer.
  • Konsumsi makanan sehat yang kadar lemak dan kolesterolnya rendah. Tingkatkan asupan serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
  • Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman keras.
  • Jika Anda menderita stroke, diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi, teraturlah dalam mengonsumsi obat yang disarankan oleh dokter, serta menjalani nasihat dari dokter mengenai pola hidup sehat.
  • Jika Anda mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, berusahalah untuk menurunkan berat badan secara aman.
  • Pastikan Anda selalu rutin memeriksakan tekanan darah, serta kadar kolesterol dan gula secara teratur agar Anda selalu waspada.
  • Berolahraga secara rutin sedikitnya dua setengah jam tiap minggu, seperti bersepeda atau berjalan kaki.
Umumnya, orang-orang yang aktif secara sosial, fisik, dan mental tidak akan mudah terkena penyakit Alzheimer. Karena itu lakukanlah hal-hal yang menyenangkan yang dapat menstimulasi gerak tubuh dan pikiran Anda. Misalnya dengan mengikuti gerak jalan, menulis blog santai, membaca, bermain musik, dan bermain bulu tangkis.


Sumber : alodokter.com

Hepatitis


Jika peradangan hati atau penyakit hepatitis tidak diatasi dengan segera, maka hal ini akan berdampak terjadinya kematian. Penyakit hepatitis merupakan salah satu bentuk peradangan di jaringan hati. Selain itu, menurut perjalan penyakit yang dialami, penyakit hepatitis dibedakan untuk penyakit hepatitis kronis dan akut. Penyakit hepatitis disebut kronis jika penyakit tersebut masih dialami setelah enam bulan lebih. Dan ada 5 jenis penyakit hepatitis yang diakibatkan karena serangan virus, yakni penyakit hepatitis A, B, C, D, dan E, dan selain itu juga beberapa virus itu saat ini bahkan sudah ada virus A-E yang bisa mengakibatkan terjadinya penyakit hepatitis F serta G.
Untuk para penderita penyuakit hepatitis yang sudah masuk dalam fase prodmoral biasanya mereka akan mengalami gejala hepatitis seperti badan lemas, cepat lelah, lesu, tidak nafsu makan, mual, mengalami muntah, perasaan tidak enak atau rasa nyeri di perut, dan juga demam, terkadang disertai dengan menggigil, sakit kepala, dan nyeri sendi, serta pegal dibagian pinggang dan bahu dan mengalami penyakit diare. Kadang juga penderita mengalami pilek atau juga batuk tetapi tidak disertai dengan sakit tenggorokan.
Jika sudah masuk dalam fase kunik, maka biasanya penderita akan melihat air kencingnya sendiri berwarna kuning pekat mirip teh. Dan selain itu juga bagian putih dari bola mata, selaput lendir pada langit-langit mulut, kulit yang berubah menjadi warna kekuningan. Dan jika terjadi suatu hambatan pada aliran empedu ke dalam usus, maka biasanya tinja akan berwarna seperti dempul.
Cara mengobati penyakit hepatitis adalah dengan menggunakan Obat Hepatitis yang Alami. Obat Hepatitis yang Alami adalah dengan menggunakan tanaman herbal yang saat ini banyak dilingkungan kita.
  • Beberapa Obat Hepatitis yang Alami adalah :
  1. Brotowali. Ambillah 1 jari batang brotowali, dan 3 gelas air, serta 1 sendok makan madu murni. Kemudian cara membuat ramuan Obat Hepatitis yang Alami adalah potonglah batang brotowali setelah itu direbus dengan 3 gelas air sampai yang tersisa adalah 1 gelas saja. Jika sudah dingin, maka saringlah dan ditambahkan dengan 1 sendok madu murni. Minumlah ramuan ini 2 kali sehari, dan dosisnya adalah masing-masing setengah gelas.
  2. Bugenfil Ambillah 9-15 gram bugenfil yang sudah terlebih dahulu dikeringkan, kemudian 3 gelas air, dan 1 sendok makan madu murni. Cara membuatnya adalah dengan membersihkannya terlebih dahulu, setelah itu potonglah batang bugenfil tipis-tipis, dan kemudian dimasukkan ke dalam panci email dan ditambahkan dengan 3 gelas air. Rebuslah sampai air yang tersisa adalah 1 gelas saja. Kemudian jika sudah dingin, saringlah. Minumlah Obat Hepatitis yang Alami ini dengan ditambahkan dengan madu murni. Air saringan diminum paling tidak adalah 2 kali dalam sehari, diminum di pagi dan sore hari dengan masing-masing dosisnya adalah setengah gelas.
  3. Daun pare
    Ambillah segenggam daun pare segar, secangkir air matang, dan juga garam secukupnya saja. Aturan pembuatannya adalah cucilah daun pare terlebih dahulu, kemudian dibilas dengan air matang. Setelah itu tumbuklah daun sampai halus dan ditambahkan dengan 1 cangkir air. Aduklah dengan merata dan ditambahkan sedikit garam. Kemudian saringlah ramuan Obat Hepatitis yang Alami itu minumlah di pagi hari serta diminum sebelum makan. Sebaiknya resep ini tidak diminum oleh ibu hamil karena akan berdampak terjadinya keguguran.
  4. Tomat
    Obat Hepatitis yang Alami dengan menggunakan dua buah tomat yang masak, gula pasir secukupnya saja. Cara membuat Obat Hepatitis yang Alami ini adalah dengan mencuci dan memotong buah tomat. Setelah itu di rebus dengan air secukupnya saja. Jika sudah mendidih, maka lumatkan dan digiling kemudian diperas. Air perasan tadi kemudian ditambahkan dengan gula kemudian diminum dengan dosis 2 kali sehari.
  5. Mengkudu
    Ambillah tiga buah mengkudu matang dan segenggam kulit mengkudu, selembar daun pisang, sepotong kain, cuka secukupnya saja. Aturan pembuatan adalah cucilah buah mengkudu dicuci dan kemudian diparut dan diperas dengan sepotong kain. Air perasan tadi diminum. Dan untuk penggunaan luar, maka ulit mengkudu ditumbuk sampai halus, setelah itu aduklah dengan sedikt cuka. Bungkus ramuan Obat Hepatitis yang Alami tadi dengan daun pisang. Kemudian dipanaskan sebentar diatas api atau juga langsung di kukus. Dan untuk kondisi yang hangat maka tempelkanlah bungkusan tersebut pada daerah perut bagian kanan atas, tempart dimana hati mengalami pembengkakan.
Hepatitis adalah penyakit yang tidak memberikan gejala dan keluhan pada penderitannya. Oleh sebab itu disebut sillent killer. Liver adalah organ yang kuat dan tidak “cengeng” berbeda dengan flu yang menimbulkan gejala begitu virus masuk. Sementara hepatitis tidak sama saat virus masuk, tubuh tidak memberikan rekasi sampai 15-20 tahun kemudian. Hanya saja, saat pergi ke dokter telah terjadi sirosis pada liver. Bentuknya sudah berenjolan dan bahkan sudah mencapai kanker hati. Hanya orang yang ‘ringkih”yang akan ccepat terdeteksi adanya virus hepatitis.
Angka penyebaran virus hepatitis di Indonesia yaitu berkisar 3-15%. Slain itu, tingginya angka penyebaran virus hepatitis juga berkaitan degan kondisi kebersihan dan kepadatan penduduk yang mempermudah penularan. Mahalnya pengobatan masih menjadi kendala utama. Terutama pada kasus hepatitis B dan C. Untuk periksa darah saja sekitar 2 juta. Apalagi pengobatan hepatitis. Pada hepatitis C, harga obatnya sangat mahal, bisa sampai ratusan juta. Untuk satu suntikan yang tiap 9 juta.
Sebetulnya kalau mengenai pelayanan untuk diagnosisi Indonesia tidak terlalu ketinggalan jauh dengan negara tetangga artinya, ilmu yang sedang dikembangkan di luar negeri saat ini juga sedang diikuti Indonesia. Terkecuali, beberapa teknis yang Indonesia sendiri tidak bisa misalnya transplantasi hati.  Namun bukan berarti kemampuan dokter Indonesia tidak mumpuni. Bahkan untuk kemampuan, dokter Indoensia terkenal sangat “prigel” dalam melakukan tindakan pengobatan. Namun, cangkok hati merupakan suatu tindakan atau prosedur yang sangat sulit. Sehingga dibutuhkan keterampilan khusus dan persiapan yang sangat kompleks dalam melalukan transplantasi hati. Sementara biaya yang diberikan pemerintah memang sangat kecil.
Gangguan pada hati dapat terjadi misalnya karena terkena infeksi. Hepatitis merupakan salah satu contoh penyakit hati yang disebabkan oleh virus. Virus ini dapat menular melalui makanan, minuman, jarum suntik dan transfusi darah.
Penderita hepatitis mengalami kerusakan pada sel hatinya sehingga zat warna empedu beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, warna tubuh menjadi kekuningan. Oleh karena itu, penyakit hepatitis yang biasa disebut sebagai penyakit kuning.
Hepatitis berarti radang atau pembengkakan hati. Hepatitis dapat disebabkan oleh virus alkohol, narkoba, obat-0batan (termasuk obat yang diresepkan) atau racun. Hepatitis merupakan penyakit yang sangat umum, bahkan dapat terjadi pada orang yang sistem kekebalannya baik. Hepatitis juga dapat mengakibatkan goresan/ pengerasan hati (sirosis) sehingga fungsi hati menjadi gagal dan berakibat kematian.
Banyak penyakit lain yang jauh lebih mudah menular melalui keagiatan sosial, misalnya tuberkulosis paru. Banyak virus yang kebih tahan berada di luar tubuh manusia sehingga lebih mudah menular, misanya hepatitis B. Banyak virus lain yang dapat menyebabkan penderitaan dan kematian dan belum ditemukan obat yang efektif misalnya hepatitis C.

  • Penyakit Hepatitis Fulminan Akut
Istilah hepatitis fulminan akut lebih banyak dikenal sebagai gagal hati fulminan yang merupakan suatu keadaan yang jarang ditemukan, disebabkan oleh karena kerusakan dan kematian sel-sel hati yang masif.
Kemampuan fungsi sintesis hati menjadi berkurang (waktu protrombin memanjang setelah pemberian vitamin K), kegagalan ekskresi bilirubin (serum bilirubin > 20mg/100ml), glukoneogenesis menurun (hipoglikemia), kesadaran menurun (prekoma atau koma) dan keseimbangan air maupun elektrolit terganggu (serum natrium dan kalium menurun).
Gagal hati fulminan ditandai oleh ensefalopati yang terjadi dalam 8 minggu setelah adanya gejala pertama penyakit hati dijumpai. Tanda-tanda ensefalopati mulai tampak setelah periode 8-24 minggu serangan, dahulu keadaan ini disebut sebagai gagal hati yang timbul pada fase lanjut.


  • Penyakit gagal hati fulminan bisa timbul pada masa neonatus atau masa setelah neonatus (masa kanak-kanak) biasanya disebabkan oleh berbagai virus, toksin, gangguan metabolisme, obat-obatan dll seperti tersebut di bawah ini :
  1. Virus hepatitis A, B, C (NANB post tranfusi), D dan E (NANB menular melalui air) 
  2. Virus Epstein-Barr dan Sitomegalovirus serta penyakit Demam Kuning (yellow fever), Ekovirus dan Adenovirus 
  3. Leptospirosis 
  4. Metabolik (penyakit wilson, tirosinemia, intolerans fruktosa, galaktosemia, defisiensi alfa 1-antiripsin dan sindroma Zellweger). 
  5. Toksin (Amanita phalloides, alkaloid pyrrolizidine, aflatoksin, karbon tetraklorida dan fosfor) 
  6. Obat-obatan (halotan, parasetamol, INH, rifampisin, sistotoksik, sodium valporat, metildopa, tetrasiklin dan amiodaron). 
  7. Vaskuler (sindroma Budd-Chairi, post cardiac bypass dan sumbatan vena), iskemia/hipotensi, leukemia/limfoma.

  • Penyakit Hepatitis Pada Anak
Penyakit hepatitis virus merupakan penyakit hati yang seirng ditemukan. Penyakit hepatitis fulminan akut dengan gejala yang biasanya berat sehingga harus tetap tinggal di tempat tidur selama stadium akut, menu makanan tergantung dari nafsu makannya, lemak diijinkan bila penderita tidak mual atau muntah. Biasanya mengandung cukup kalori untuk memperbaiki berat badan yang menurun selama sakit.
Penyakit hati kronis yang memerlukan perencanaan diit sehingga anak mencapat cukup energi, makanan tidak mengandung banyak lemak dan pada isrosis membatasi jumlah protein yang masuk.
Hepatitis virus adalah infeksi sistemik yang berakibat tidak baik terhadap fungsi normal sel-sel hati. Peneybab dari hepatitis virus akut adalah hepatitis A, B, C atau Non A Non B (water borne epidemic dan post transfusion) dan D (delta virus). Beberapa virus lainnya dapat menimbulkan hepatitis seperti virus sitomegalo, virus herpes, virus Epstein-Barr, virus rubela dan virus koksaki dll.
Hepatitis akut sering menimbulkan keluhan mual dan nafsu makan menjadi berkurang, makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan nafsu makannya dalam porsi kecil dan sering. Bilamana anak tidak mau/tidak bisa makan dengan baik perlu ditpertimbangkan pemberian makan lewat sonde lambung.
Hepatitis yang terjadi pada anak juga dapat diakibatkan oleh penurunan gen orangtua yang memiliki risiko hepatitis atau penderita hepatitis. Hepatitis pada anak dapat juga disebabkan oleh kelainan sewaktu masa kehamilan, oleh ibu yang menderita hepatitis atau kelainan tertentu yang berdampak pada janin atau bayi. Untuk mencegah penyakit hepatitis ini, anak akan diberikan vaksin anti hepatitis yang diadakan setiap 3-6 bulan sekali.

Disleksia

on Kamis, 03 Maret 2016
Disleksia berasal dari bahasa Yunani di mana 'dis-' yang berarti sulit, sedangkan 'lexicon' yang berarti kata. Dari asal katanya tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa disleksia adalah ganguan dari susunan saraf pusat sehingga menyebabkan penderita sulit untuk dapat membaca. Di Indonesia, disleksia disebut juga dengan gangguan membaca khas dan masuk ke dalam salah satu gangguan perkembangan belajar khas. Pada penderita disleksia tidak terjadi gangguan untuk tingkat kepadaian. Disleksia lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Disleksia juga dapat ditemukan bersamaan dengan gangguan lainnya, yaitu gangguan pemusatan perhatian / hiperaktif (GPPH) atau dikenal juga dengan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), gangguan berbahasa, gangguan mengucapkan kata dengar benar dan alergi terhadap makanan atau minuman tertentu.


Penyebab dan Gejala Disleksia
Penyebab disleksia belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga faktor keturunan atau genetika berperan di balik gangguan belajar ini. Seorang anak memiliki risiko menderita disleksia jika orang tuanya menderita gangguan yang sama.
Gejala-gejala dalam disleksia sangat bervariasi dan umumnya tidak sama untuk tiap penderita sehingga sulit dikenali, terutama sebelum sang anak memasuki usia sekolah. Ada beberapa gen keturunan yang dianggap dapat memengaruhi perkembangan otak yang mengendalikan fonologi, yaitu kemampuan dan ketelitian dalam memahami suara atau bahasa lisan. Misalnya membedakan kata “paku” dengan kata “palu”.
Selain masalah pada kepekaan fonologi, gejala disleksia juga bisa berupa hal-hal berikut:
  • Kurang memori verbal untuk mengingat urutan informasi secara lisan dalam jangka waktu singkat, semacam perintah singkat seperti menaruh tas dan kemudian mencuci tangan.
  • Kesulitan dalam mengurutkan dan mengucapkan sesuatu dalam kata-kata, misalnya urutan angka, menamai warna-warna, atau benda.
  • Kesulitan memroses informasi lisan, misalnya saat mencatat nomor telepon atau didikte.
Pada balita, disleksia dapat dikenali melalui perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya dan membutuhkan waktu lama untuk belajar kata baru. Misalnya keliru menyebut kata “ibu” menjadi kata “ubi”. Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri dan kurang memahami kata-kata yang memiliki rima.
Indikasi disleksia biasa akan lebih jelas ketika anak mulai belajar membaca dan menulis di sekolah. Anak Anda akan mengalami beberapa kesulitan seperti:
  • Sulit memroses dan memahami apa yang didengarnya.
  • Lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad.
  • Sering salah atau terlalu pelan saat membaca.
  • Sulit mengingat urutan, misalnya urutan abjad atau nama hari.
  • Sulit mengeja, misalnya huruf “d” sering tertukar dengan huruf “b”.
  • Cara baca yang terbata-bata atau sering salah.
  • Kesulitan mengucapkan kata yang baru dikenal.
  • Lamban dalam menulis, misalnya saat didikte atau menyalin tulisan.
  • Memiliki kepekaan fonologi yang rendah.
Karena sulit dikenali, gejala-gejala disleksia juga ada yang baru disadari setelah penderita beranjak remaja bahkan dewasa. Beberapa di antaranya adalah:
  • Kesulitan membaca dan mengeja.
  • Kesulitan menyalin catatan serta membuat karya tulis, misalnya makalah atau laporan.
  • Sering tidak memahami lelucon atau makna bahasa kiasan, misalnya istilah “otak encer” yang berarti pintar.
  • Kesulitan untuk mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam tugas.
  • Kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon.
  • Cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis.
  • Kesulitan berhitung.
Jika Anda mencemaskan perkembangan kemampuan membaca dan menulis anak Anda yang terasa lambat, hubungilah dokter. Terutama jika Anda mengenali gejala-gejala disleksia lain yang dialami anak anda.

Diagnosis dan Penanganan Disleksia
Sebelum ke dokter atau spesialis, Anda sebaiknya mencari tahu tentang kelebihan serta kekurangan dalam kemampuan anak lebih dulu. Proses ini dapat dilakukan melalui permainan, misalnya puzzle gambar. Jika memungkinkan, Anda juga dapat meminta bantuan dari guru sekolah seperti meminta guru untuk memberikan program remedial.
Disleksia cenderung sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang beragam. Diagnosis gangguan ini membutuhkan penilaian dari banyak faktor. Di antaranya:
  • Riwayat, perkembangan, pendidikan, dan kesehatan anak.
  • Keadaan di rumah.
  • Pengisian kuesioner oleh anggota keluarga serta guru sekolah.
  • Tes untuk memeriksa kemampuan memahami informasi, membaca, memori, dan bahasa anak.
  • Pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan neurologi anak untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit atau gangguan lain yang menyebabkan gejala-gejala yang dialami.
  • Tes psikologi untuk memahami kondisi kejiwaan anak dan menghapus kemungkinan adanya gangguan interaksi, kecemasan, atau depresi yang dapat memengaruhi kemampuannya.
Setelah hasil diagnosis disleksia sudah pasti, dokter akan menganjurkan penanganan yang sebaiknya dijalani. Disleksia memang tidak bisa disembuhkan, tapi pendeteksian dan penanganan dini terbukti sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya membaca.
Salah satu bentuk penanganan yang dapat membantu penderita disleksia adalah pendekatan dan bantuan edukasi yang lebih. Penentuan jenis intervensi yang cocok biasanya tergantung pada tingkat keparahan serta hasil tes psikologi penderita.
Bagi penderita disleksia anak-anak, penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi paling efektif jika diberikan sebelum anak mencapai usia delapan tahun. Jenis intervensi yang paling membantu dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis adalah intervensi yang berfokus pada kemampuan fonologi. Intervensi ini biasanya disebut fonik.
Penderita disleksia juga akan diajari elemen-elemen dasar seperti belajar mengenali fonem atau satuan bunyi terkecil dalam kata-kata, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut, memahami apa yang dibaca, membaca bersuara, dan membangun kosakata.
Selain dengan intervensi edukasi, orang tua juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan anak. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membacakan buku yang menarik minat anak. Kegiatan ini dapat Anda lakukan lebih dari sekali agar anak dapat terbiasa dengan teks dalam buku. Menyemangati dan membujuk anak untuk membaca buku, lalu mendiskusikan isinya bersama-sama akan berguna.
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak mencela saat anak melakukan kesalahan dalam membaca sehingga kepercayaan diri anak juga dapat dibangun.
Intervensi edukasi tidak hanya berguna bagi penderita disleksia anak-anak, tapi juga untuk penderita remaja dan dewasa dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis mereka. Di samping itu, melibatkan bantuan teknologi seperti program komputer dengan perangkat lunak pengenalan suara juga umumnya dapat bermanfaat.
Penanganan disleksia membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Karena itu, keluarga serta penderita dianjurkan untuk bersabar menjalaninya. Dukungan serta bantuan dari anggota keluarga serta teman dekat akan sangat membantu.

                                        
                                          untuk lebih lengkapnya bisa lihat video diatas yaaaaa
                                                               sumber : Alodokter.com